Langsung ke konten utama

Setetes Air & Lilin Kecil ♥

     Malam itu hujan rintik membasahi halaman rumah tua yang berada di pinggiran kota. Saat itu hujan cukup lebat sehingga membuat seisi kota sangt gelap. Terlihat sebuah jendela besar dengan bingkai kayu di pinggirnya. Di antara kaca bening yang cukup tipis itu terlihat setetes air yang menempel di bagian luar jendela dan sebatang lilin kecil dengan api yang bergoyang-goyang. "hai.." ucap setetes air itu setelah meluncur turun di kaca dan berhenti tepat di depan api lilin itu. "ha-haii" ucap api kecil itu. "hmm, di sini hangat" balas titik air itu. "iya, aku selalu memberikan cahaya dan kehangatan untuk siapapun di sekitarku. Jawabnya lantang sambil tersenyum.
    "Kalau kau menerangi dan menghangatkan siapapun disekitarmu, apa sebenarnya yang bisa aku perbuat?" tanya titik air itu, dia berfikir dan terus berfikir. Waktu telah berlalu cukup lama, namun air itu tidak berhenti berfikir. Dia mengarahkan pandangannya pada api kecil itu. "hei.. apa yang kau lakukan di bawah situ? bukankah kau tadi berada tepat di depanku?" tanyanya heran. "aku tidak kemana-mana, hanya saja lilin ini mulai meleleh dan sumbu-ku mulai terbakar" jelasnya sambil tersenyum. Titik air itu melihatnya dengan heran.
   "Lalu apa kau sudah menemukannya?" sambung lilin itu, "apa?" tanya titik air itu. "apa kau sudah menemukan apa yang bisa kau lakukan?" tanyanya lagi sambil bergoyang ringan karena hembusan angin yang lewat dari sela-sela jendela. "aku rasa tidak ada yang bisa aku lakukan" titik air dengan putus asa. "Tidak! Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia!" tegas api kecil itu membuatnya sedikit tinggi dan membesar, lilinnya meleleh dan berjatuhan di sekelilingnya lalu mengeras lagi.

     Tetesan itu terkejut dan meluncur turun lagi sehingga membuatnya sejajar dengan lilin itu. "Ahh.." ucap sang api setelah melihat lilinnya lebih cepat mencair saat dia membesar dan titik air itu jatuh kebawah. Dia menenangkan diri dan membuatnya kembali kecil seperti semula. "kalo begitu, mungkin aku telah diciptakan disini untuk menemanimu, ada bersamamu, dan menjadi temanmu?" ucap titik air itu dengan bersemangat dia sangat senang karena dia telah mengerti apa yang kini harus dia lakukan. "mungkin itu lebih baik.." ucap api kecil itu menjadi lebih tenang.
     Tiba-tiba angin berhembus sedikit kencang dari pintu belakang, membuat lilin itu bergerak mendekati kaca, dekat dan sangat dekat dengan titik air itu bahkan hampir mati. Lalu angin kembali tenang. "huft" hela si api kecil setelah mengambil nafas panjang. Dia melihat titik air itu yang sedang melihatnya dalam-dalam. "kenapa?" tanya api kecil itu. "cahayamu begitu indah, saat aku dekat denganmu aku merasa sangat hangat dan sangat nyaman" jelas titik air itu dengan lembut.
     Api kecil itu terkekeh "hihihi..". "mungkin Tuhan tidak hanya menciptakan aku sebagai temanmu" ucap tetesan air kecil itu sambil tetap memandang kagum si api kecil. "lalu?" tanya api itu, "mungkin lebih dari sekedar teman" jawab air itu dengan cepat. "sahabat?" tanya api itu lagi., "lebih dari itu.." ucap air itu lagi dengan cepat pula seraya tersenyum padanya. Si api kecil memiringkan wajahnya dan berusaha sedikit meninggi agar dekat dengan tetesan air itu karena lilinnya berkurang lagi, namun dengan begitu lilinnya lebih cepat habis.
      Tetesan air itu berusaha meluncur tapi dia terlalu cepat dan melewati api kecil itu. Dia berhenti, dia terlalu kebawah sehingga dia harus melihat ke atas untuk melihat si api kecil. "Kau menjadi sangat pendek, seolah-olah sebentar lagi kau akan habis" ucap tetesan air itu setelah melihat batang lilin itu lalu melihat lagi ke arah api kecil itu. "mungkin aku memang akan habis.." ucap api kecil itu sambil menunduk sedih. "apa yang akan terjadi bila lilinmu habis?" tanya titik air itu keheranan. "aku akan mati dan akan hilang, kau tak akan melihatku lagi" ucap api itu menangis membuat apinya mengecil dan hampir mati. "jangan menangis!" ucap titik air itu karena takut kehilangan cahanya. "kalaupun memang seperti itu aku akan tetap menemanimu sampai kau habis hingga aku jatuh ke bawah dan meresap kedalam tanah" ucap air itu untuk menenangkan si api kecil.
     Api kecil mulai tenang dan tersenyum, "maafkan aku, aku tidak selalu bisa bersamamu" ucap api kecil. "tidak apa, aku memang ingin kita selalu bersama tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa" ucap air itu. "tapi itu hanya membuatmu merasa tidak berguna dan membuatku merasa bersalah, jadi maafkan aku" ucap api kecil itu sambil mendekat ke arah jendela. "berhentilah meminta maaf, kau membuatku merasa tidak berguna!" ucap titik air itu dengan lantang. "kalo begitu aku akan berterima kasih padamu, terimakasih karena kau rela menemani aku di sisa hidupku ini" ucap api kecil itu sambil tersenyum. "iya, aku juga berterimakasih padamu. karna kau telah membuatku merasa berharga." jawab titik air. "apa yang kau inginkan untuk terimakasihku?" tanya api kecil itu. tapi sang air hanya memandang kagum cahaya indah yang terpancar dari api kecil itu dia merasa sangat sangat nyaman. "hihi, apa?" tanya api kecil "kau sangat membuatku nyaman, kau indah dan sangat hangat, tawamu sangat merdu, aku merasa bahagia mendengar tawamu melihatmu sebagai seseorang yang ceria dan selalu membuatku merasa berarti, apa lagi yang aku perlukan?" ucapnya.
    "apapun.." jelas api itu yang sangat ingin membalas kebaikan titik air itu. "ijinkan aku untuk menyentuhmu?" jawab sekaligus tanya air itu. "tapii... tapi..." ucap api kecil itu terbata-bata "kenapa kau merasa sangat sedih? apa aku telah mengatakan sesuatu yang salah?" ucap air itu, "aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, ada sesuatu yang mengikat kita. kita tidak akan bisa bertemu dan menyentuh satu sama lain" ucapnya sambil menangis tersedu-sedu. "apa itu? apa yang telah mengikat kita?" tanya titik air itu yang juga menjadi sangat sedih karena dia tahu bahwa dia tidak akan bertemu secara langsung dan menyentuh api kecil yang cantik itu. 
     "Kita akan lenyap, kita akan musnah, kita akan menjadi asap dan hilang begitu saja..." jelas api kecil itu sambil terus menangis, mengecil dan hampir padam. "Tunggu! berhentilah menangis! aku mohon! jika kau menangis dan terus mengecil hingga padam aku tidak akan melihatmu lagi dan aku akan terus hidup dalam penyesalan saat aku meresap di dalam tanah nanti" ucap tetes air itu berusaha menghentikan tangisan sang api. "sang api berusaha menahan tangisnya dan kembali ke ukurannya semula. "sentuhlah aku, ku mohon, jika kau terus menangis kau akan terus mengecil dan padam namun jika aku hanya melihatmu hingga sumbu dan lilinmu habis itu juga tidak ada gunanya. Aku hanya akan berakhir dalam kesepian dan kenangan-kenangan pahit terbayang detik-detik saat kau padam. Saat kita bersentuhan, kita akan bersatu menjadi asap mencapai keabadian" jelas tetesan air itu panjang lebar.
     Angin bertiup kencang lagi dari pintu belakang membuatnya sangat dekat dengan tetesan air itu. "ini sangat nyaman, kau sangat cantik" ucap tetesan air itu, sekarang tetesan air itu yang tidak sanggup menahan tangisnya. "baiklah kalau memang itu yang kau inginkan, aku juga sangat nyaman saat bersamamu, aku tidak ingin kehilangan saat saat itu.." sang api kecil hanya menunduk seraya mengamini itu semua.
     "Terimakasih, kau membuatku sangat berarti" ucap sang api dan mendekat pelan-pelan pada sang air. Kini wajah tetesan air itu terlihat sangat tegang, "aku yang sangat berterima kasih, kau membuattku sangat hangat dan nyaman, kau cahayaku yang terindah, kau membuatku mengerti akan hidupku" ucap air itu. "aku mencintaimu" ucap api kecil itu, "aku sangat mencintaimu" balas titik air itu. Kali ini mereka berdua saling memandang dan tersenyum, mereka saling mendekat dan akhirnya mereka bersentuhan.
     Ruangan itu menjadi sangat gelap, mereka telah lenyap mereka terbang bersama asap yang menari-nari keatas menuju keabadian. Perlahan hujan menjadi rintik dan hujan telah reda. halaman mulai mengering dan listrik di blok itu telah hidup kembali. mereka telah hilang namun bekas hitam yang mereka tinggalkan di kaca jendela itu dan kisah kasih sayang mereka takkan pernah hilang.

~The End~

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manisnya Persahabatan ♥

Apasih tali persahabatan itu?      Persahabatan adalah pertautan jiwa yang berjumpa dalam keriangan. Saat jiwa bertaut dengan jiwa yang lain, jiwa memperoleh kesenangan dan kebahagiaannya. Jiwa pun mendapatkan tempat untuk menumpahkan semua keluh kesahnya dan menjadikannya ringan dan terbang bebas.      Jiwa membutuhkan teman karena jiwa berasal dari satu kesatuan. Jiwa-jiwa sebelumnya pernah bersatu dalam sebuah alam yang mahaluas dan tak berbatas. Di sana jiwa-jiwa iyu saling mendekap dan akrab.      Jiwa-jiwa di negerinya yang abadi tidak pernah disentuh dan dirasuki kebencian dan keirian. Jiwa-jiwa itu saling menyayangi dan mengasihi.      Sahabat hadir untuuk menemani jiwa menapaki jalan-jalan menuju kesempurnaan. Menuju pada pendewasaan dan kematangan jiwa. Pada jiwa yang dipenuhi dengan kemuliaan dan keagungan.      Sahabat akan meringankan beban yang memberati punggung jiwa. Sahabat akan memberik...

Sama seperti pohon itu...

Seorang ibu bertanya pada anak lelaki-nya yang baru duduk di bangku TK. “Nak, apa cita-citamu?” si anak memandangi ibunya dengan ekspresi yang penuh tanya “apa itu cita-cita?” tanyanya dengan mata yang berbinar-binar. "kamu ingin menjadi apa saat kamu besar nanti?” jawab Ibunya dengan mencubit lembut pipi anaknya. “Aku ingin menjadi pohon! Yang besar dan kokoh!” teriaknya sambil mengepalkan tangan kanannya lalu diangkatnya tinggi-tinggi. Ibunya tertawa, “kenapa pohon?” tanyanya lagi. “Aku akanberdiri sendiri. Aku akan ada di hamparan ladang yang luas. Ya! Aku akan ada di antara rumput yang bergoyang bu!” ucapnya dengan penuh semangat sambil merentang-rentangkan tangan menggambarkan luasnya ladang yang ada di angan-angannya.“Lalu apa yang akan kamu lakukan sebagai pohon?” tanya ibunya dengan menyunggingkan senyuman yang tak hilang sama sekali dari bibirnya. “aku memang paling terlihat dan diam bu, tapi aku akan mendengar nyanyian rumput-rumput itu, menyimpankan air untuk ru...