Aku menatap cermin,
dan aku melihat sosok gadis SMA yang sangat bersemangat untuk menjalani hari
ini. Hai! namaku Kirana Alshira. Aku mempunyai saudara kembar namanya Aileena
Alshira. Nama yang nggak biasa kan? Iya, aku dilahirkan dari dua manusia
pemimpi. Kirana artinya cahaya indah sama seperti Aileen (dibaca: Ailin),
sementara Alshira adalah nama lain dari bintang Sirius. Dalam Al-qur’an
dijelaskan bahwa bintang Alshira adalah bintang kembar yang cahayanya akan
membentuk busur dalam suatu waktu, dan menurut penelitian Sirius adalah
satu-satunya bintang yang kembar, sebenarnya bukan kembar namun kedua bintang
terang itu berdekatan. Mereka menamainya Sirius A dan Sirius B. Dan bisa
dibilang Alshira adalah nama Al-qur’an-nya bintang Sirius. Dan mungkin karena
bintang itu disebut kembar, Ayah menamaiku dan Aileen dengan nama belakang Alshira.
Aku lahir 2 menit setelah Aileen di malam Desember yang penuh bintang. Meski Aileen
lahir duluan tapi Mama dan Ayah mengatakan bahwa Aileen adalah adikku. Karena
dalam kepercayaan orang jawa jika seorang ibu melahirkan anak kembar, maka yang
lahir dulu adalah adiknya karena kakaknya ngalah
sama adiknya. Tapi bagai manapun juga Aileen lahir duluan jadi aku menyebutnya
sebagai kakak-ku. Jika ditanya seseorang pasti kita sama-sama menyebut diri
kita sebagai adik, jadi setiap orang yang bertanya pasti akan bingung.
Banyak
orang yang bilang bahwa aku adalah gadis remaja yang ramah dan asyik kalau
orang jawa bilang sih blater, tapi
dengan pembawaanku yang ceria dan bisa menularkan semangat pada orang lain ini
tetap saja tidak ada yang bisa membuatku merasa nyaman ketika bersama Aileen.
Dia seseorang yang sangat berbeda denganku, mama bilang dia itu benar-benar
sosok cewek yang jowo, dia sangat anggun
dan kalem. Dia cewek yang cuek, di banding dengan cewek SMA lainnya dia bisa
dibilang susah untuk akrab dengan teman sebayanya. Dan justru itu yang aku
herankan, menurutku Aileen hampir sempurna tapi kenapa dia sangat susah mencari
teman. Tapi bagiku Aileen lebih dari sekedar saudara kembarku, dia adalah
sahabatku dan hampir kemanapun kita selalu bersama. Kita adalah saudara yang
rukun, kita hampir tidak pernah bertengkar kecuali saat kita berebut boneka
Barbie di halaman depan rumah lalu aku mendorongnya hingga tangannya tertusuk
duri kaktus. Momen itu tidak akan kulupakan hingga kapanpun, aku sangat merasa
bersalah. Bagai mana bisa anak berumur 3 tahun bisa melakukan tindakan keji
seperti itu? Hanya demi boneka Barbie!.
Ada
kebiasaan yang mungkin selalu di anggap aneh sama anak-anak remaja yang lain.
Kita berdua mempunya buku harian yang kita sebut “Diary tentang kelip bintang”
dan di akhir tahun tepat di hari ulang tahun kita, kita berdua saling bertukar
buku harian kita. Di tahun ini aku merasa ada yang berbeda dengan hubungan
kita. Aku sangat tidak sabar untuk membaca diary milik Aieen. Aku berlari
menuju meja makan, sarapan seperi biasa, mendapat kejutan dari Mama dan Ayah, make a wish, tiup lilin, saling tukar
diary dengan Aileen dan kembali ke kamar masing-masing. Aku menata tempat
tidurku senyaman mungkin. Aku mulai membuka buku harian Aileen.
Dear Diary,
Pagi itu aku dan Kirana berangkat ke sekolah dengan bersepeda, karena
mobil Ayah mogok. Sampek di sekolah dandan-an kita sudah gak karuan, hihi kita
udah kecapean mengayuh sepeda butut kita. Belum lagi begidik liatin kumis pak Santo,
satpam sekolah yang sudah siap menghukum kita. Yah gimana nggak di hukum? aku
lihat di arloji ungu-ku dan ini sudah jam 8, dan bel masuk kelas sudah berbunyi
satu jam yang lalu. “Lin, lihat deh, ada Jerico!” ucap Kirana seraya menyenggol
tubuhku, aku hanya tersenyum karena aku sedang berkonsentrasi berusaha
menyeimbangkan tubuhku. Habis pak Santo menyuruh kita mengangkat satu kaki
sambil menunggu jam pelajaran berikutnya agar tidak mengganggu proses belajar
mengajar di kelas. “Hai,” ucap jerico menyapa kita berdua, setelah abis di
bentak-bentak pak Santo dia masih sempat menyapa kita dengan gayanya yang nggak
bisa dibedain antara sok cool dan genit itu? Tuhan manusia apa sih dia?
Dia berdiri di sebelah Kirana lalu mengangkat kaki kanannya, Kirana
melompat-lompat kecil dengan satu kakinya untuk menyeimbangkan tubuhnya. Tapi,
dia tidak sanggup menahannya. Tubuhnya mulai miring ke samping dan dia menurunkan
kakinya yang jatuh dan menapak tepat di
atas kaki Jerico. “Ups! Sory-sory nggak sengaja!” ucap Kirana sambil berusaha
membersihkan sepatu Jerico. “sudah-sudah .. nggak papah kok.. lanjut aja, nanti
dimarain pak Santo loh!” ucap Jerico. Kirana terlihat ketakutan dan langsung
kembali ke posisi semula. “Kalian berdua kok tumben terlambat?” ucap Jerico
setelah menyadarinya. “mobil ayah mogok” ucapku, sambil manyun. BT banget!!,
baru ini kita terlambat separah ini, Cuma karna mobil butut Ayah itu. “eh, lin..
senyum dong, masak manyun gitu? Cantiknya ilang loh!” goda Jerico. “Ish kamu
itu ! dalam keadaan gini masih bisa genitin cewek!” ucap Kirana sambil mencubit
lengan Jerico. “ih, abis Aileen pagi ini cantik banget sii. Aileen mau nggak
jalan sama akang iko?” ucap Jerico genit sambil mengangkat-angakat kedua
alisnya. “sayangnya, aku nggak bisa pergi tanpa persetujuan Kirana, hehe”
ucapku sambil tertawa palsu. Itu selalu menjadi kebiasaan kita jika di ajak
jalan sama cowok, “gimananih?” Tanya Jerico meminta jawaban dari Kirana “no,
it’s mean TIDAK!” ucap Kirana tegas. “tapi dia lucu juga kok” bisikku pada
Kirana “tapi, aku gak akan membiarkan saudaraku kencan sama cowok genit kayak
dia..” balas Kirana berbisik juga. Kita tertawa melihat Jerico mengangkat kedua
bahunya yang seolah mengatakan “okelah, mau gimana lagi?” lalu terlihat lemas.
Kriiiiing! Bel berbunyi. Kita pun masuk kelas.
“Pagi lin..” sapa Robby cowok yang selalu menjadi ketua kelas sejak
semester pertama kita duduk di bangku SMA. “pagi by, tadi ada tugas?” tanyaku.
“ya ada lah! kayak nggak tau guru kimia kita aja, kamu kenapa bisa telat sih? sayang
loh lin kamu ketinggalan satu jam mata pelajaran aja udah ketinggalan jauh,
lagian..” belum selesai Robby memberi pencerahan di pagi ini Kirana menyela.
“Hai by..” sapanya. Roby seketika diam, “eh kirana, pagi jugaa, kenapa bisa
terlambat? Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Ato jangan-jangan kamu kesiangan? Tapi
kamu sempet sarapan kan? Kalo belum istirahat pertama aku temenin kamu makan di
kantin, oke?” serang Robby dengan memberikan pertanyaan beruntun. “hmm, dengan
persetujuan Aileen tentunya” ucap Kirana sambil terkekek, “makasih by, tapi
Kirana sudah sarapan kok. Lagian pasti juga aku temenin kalo istirahat” jawabku
yang berarti tidak. “yah lin, kok buang-buang kesempatan sih.. Robby kan
ganteng, pinter pula kesayangan guru-guru?” bisik Kirana meminta penjelasanku.
“emang kamu betah kalo nanti pacaran selalu ditanyain dengan serentetan
pertanyaan yang gak ada habisnya?” jelasku sambil tertawa. “yaudah, mungkin
lain kali” ucap Robby lalu pergi sambil menahan malu.
Bel istirahat berbunyi, aku dan Kirana menuju kantin. “Eh ada cewek
cantik nih, boleh gabung?” Suara berat itu, aku sangat mengingatnya. Aku
melihat siluet cowok tinggi yang membelakangi cahaya itu. “eh iya no, gabung
aja…” ucap Kirana, hah? Ternyata Vino, cowok paling cakep, keren, baik, dan
multitalented banget yang pernah aku kenal!! Aku bener-bener ngefans sama itu
cowok. Kitapun segera melahap habis makan siang kita, “ngomong-ngomong kalian
akhir-akhir ini sibuk apa nih?” ucap Vino. “hmm..” ucapku sambil berfikir,
“sibuk mikirin kamu, hihii” sela Kirana. Aku hanya tersenyum. “ih kamu ini bisa
aja! Oh iya, sabtu ini kamu ada acara nggak?” tanya Vino pada Kirana “enggak
kok, kenapa emang?” jawab sekaligus tanya Kirana. “di gedung Trisakti mau ada
konser music klasik, keren loh mau nonton bareng?” tanya Vino lagi-lagi. Entah
kenapa dadaku sesak dan mataku mulai berkaca-kaca, aku ingin menangis. “hmm,
mau banget kalo diijinin sama Aileen..” ucap Kirana. “eh, iya iyaa.. pergi
ajaa..” jawabku dengan terbata-bata. “lin?” panggil Kirana, “ya?” jawabku. “eh,
nggak papa” jawabnya lagi tapi masih memandangiku. “kalo Aileen mau ikut boleh
kok, kita pergi bertiga! Yey!” ucap Vino. “makasih no..” jawabku sambil memberi
sedikit senyuman.
Sore itu aku dan Kirana memilih-milih baju untuk kita pakek ke konser
musik itu, kita serempak menggunakan dress merah maroon dengan beda model. Aku
menggunakan mini dress dengan potongan lengan yang pendek dan rambutku yang hitamku
yang panjang aku sibakkan ke samping, melihatkan anting kecil ku yang membuatku
terlihat simple dan anggun. Sementara Kirana menggunakan mini dress dengan
potongan lengan yang panjang dengan bahan kebaya berwarna hitam dan merah
maroon, membuat kulitnya terlihat bersih, rambutnya yang juga panjang dan hitam
dia tarik semua ke belakang membuat ikat pony tail dengan menyisakan poni di
depannya. Sangat cantik.
“Hai kalian!” teriak Vino, sambil melambai-lambaikan tiga tiket di
tangannya. “wah, jadi gerogi nih nonton sama dua cewek cantik..” ucap Vino seraya
melihat kita berdua, “yuk!” kitapun langsung masuk, karena konser sebentar lagi
dimulai. Vino duduk di antara kita berdua. Konser berlangsung, kita
mendengarkan dengan seksama. Entah kenapa, aku masih mengingat bagaimana cara
Vino mengajak Kirana tadi. Baru kali ini aku jatuh cinta dengan seorang
laki-laki, dan merasakan cemburu. Tapi mana mungkin aku cemburu dengan saudara
kembarku?.
Berhubung gedung Trisakti hanya berada di beberapa blok dari rumah,
kita memutuskan untuk berjalan kaki. Dan Vino mengantar kita. Aku berjalan di
belakang mereka, aku menundukkan kepala memandangi bayangan mereka yang
tersorot dari lampu-lampu jalan. Kirana memandangi langit yang penuh bintang,
sementara Vino… memandangi Kirana. Ya Tuhan rasanya kali ini aku benar-benar
ingin menangis. Aku melihat bayangan mereka, tangan Vino yang berusaha ingin
menggandeng tangan Kirana, tapi tiba-tiba Kirana melipat tangannya ke depan
dadanya. Dan membuat Vino tersentak. Aku terus memandangi mereka, “ehm..” Vino
berdeham, “ehm..” Kirana ikut-ikut berdeham. Tiba-tiba Vino menghentikan
langkahnya, membuat tubuhku menabrak punggungnya. Kirana tertawa, lalu aku ikut
tertawa. “Maaf lin, kaget ya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum
menahan air mata. “aku mau ngomong sesuatu sama Aileen, mungkin sama kalian”
ucap Vino. Aku dan Kirana bertanya-tanya, Vino menekuk lututnya dan berlutut di
hadapan kita ber dua. Aku dan Kirana saling memandang. “Aileen.. Apa.. kamu…”
tanganku bergetar, ada apa ini? “ehm.. apa .. kamu.. mau.. mau.. mengijinkan
aku menjadi pacarnya Kirana?” ucapnya.. Seketika lututku lemas dan aku bersimpuh
sehingga membuat aku sejajar dengan Vino. Aku tersenyum dan tertawa kecil, aku
meneteskan air mataku. Aku tertawa, menghapusnya lalu membawa Vino untuk
berdiri bersamaku. Aku menangis sejadi-jadinya aku memeluk Vino, sepertinya
Kirana sangat kaget. Aku berusaha menahan tangisku “iyaa.. aku ijinin kamu sama
Kirana, asal kamu mau jaga bener-bener Kirana dan janji kalo kamu gak bakal
nyakitin dia” ucapku sambil sesenggukan. “enggak, aku nggak mau..!” kata
Kirana. Aku memandang Kirana, dia juga meneteskan air mata “Gimana bisa aku
pacaran sama orang yang kamu suka lin!” ucapnya, aku tersentak bagaimana bisa
Kirana tau kalau aku suka sama Vino? Vino memandangku dalam-dalam dia berusaha
memahami situasi ini “a.. aku nggak suka kok sama Vino?” ucapku sambil
tersenyum dan membelai rambutnya. “terus kenapa kamu nangis lin?” tanyanya
sambil mengusap air matanya. “karna aku rasa, kamu sudah menemukan cowok yang
tepat. Bahkan dia tidak menyatakan perasaannya sebelum mendapat ijin dari aku..
aku yakin Vino cowok yang tepat buat kamu..” aku memeluk Kirana seraya
tersenyum pada Vino lalu memberinya isyarat. Aku melepaskan pelukanku, Kirana
tersenyum padaku dengan mata indahnya yang berbinar-binar itu. Vino memegang
tangan Kirana dan menghapus air mata yang jatuh dipipinya. “Kirana, kamu mau
nggak jadi cewekku? Satu-satunya yang mampu mengisi hatiku, dan menemani setiap
langkah di hidupku?” Vino mengungkapkan isi hatinya dengan wajah merona dan
mata yang juga berbinar, aku rasa dia benar-benar bahagia. “apaan sih..!” ucap
Kirana sambil tertawa di sela tangisnya. “yes she do!” ucapku lantang. Kirana
tertawa, aku menatap langit penuh bintang. Inikah yang namanya cinta? Aku bisa
merasakan sakit dan bahagia dalam satu waktu yang sama. Aku berharap Kirana
akan terus bisa membuatku bahagia dengan caranya.
Aku menutup Diarynya, aku
menangis tersedu, aku tidak tau harus meminta maaf atau berterimakasih pada
Aileen. Bagaimana Aileenbisa membuatku bahagia jika dia saja tidak mampu
membuat dirinya bahagia?. Namun jika sudah seperti ini, aku tidak akan
menyia-nyiakan kepercayaan Aileen, aku akan membahagiakan dia dengan caraku.
Aileen selalu bisa menjadi saudara, sahabat, bahkan ibu buat aku.
Dan bagaimanapun tidak akan ada
yang bisa memisahkan kedua bintang Sirius, karena mereka memang diciptakan
sebagai bintang yang paling terang. Dan akan selalu bersama, selamanya.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar