Langsung ke konten utama

Alshira ♥

Aku menatap cermin, dan aku melihat sosok gadis SMA yang sangat bersemangat untuk menjalani hari ini. Hai! namaku Kirana Alshira. Aku mempunyai saudara kembar namanya Aileena Alshira. Nama yang nggak biasa kan? Iya, aku dilahirkan dari dua manusia pemimpi. Kirana artinya cahaya indah sama seperti Aileen (dibaca: Ailin), sementara Alshira adalah nama lain dari bintang Sirius. Dalam Al-qur’an dijelaskan bahwa bintang Alshira adalah bintang kembar yang cahayanya akan membentuk busur dalam suatu waktu, dan menurut penelitian Sirius adalah satu-satunya bintang yang kembar, sebenarnya bukan kembar namun kedua bintang terang itu berdekatan. Mereka menamainya Sirius A dan Sirius B. Dan bisa dibilang Alshira adalah nama Al-qur’an-nya bintang Sirius. Dan mungkin karena bintang itu disebut kembar, Ayah menamaiku dan Aileen dengan nama belakang Alshira. Aku lahir 2 menit setelah Aileen di malam Desember yang penuh bintang. Meski Aileen lahir duluan tapi Mama dan Ayah mengatakan bahwa Aileen adalah adikku. Karena dalam kepercayaan orang jawa jika seorang ibu melahirkan anak kembar, maka yang lahir dulu adalah adiknya karena kakaknya ngalah sama adiknya. Tapi bagai manapun juga Aileen lahir duluan jadi aku menyebutnya sebagai kakak-ku. Jika ditanya seseorang pasti kita sama-sama menyebut diri kita sebagai adik, jadi setiap orang yang bertanya pasti akan bingung.
                Banyak orang yang bilang bahwa aku adalah gadis remaja yang ramah dan asyik kalau orang jawa bilang sih blater, tapi dengan pembawaanku yang ceria dan bisa menularkan semangat pada orang lain ini tetap saja tidak ada yang bisa membuatku merasa nyaman ketika bersama Aileen. Dia seseorang yang sangat berbeda denganku, mama bilang dia itu benar-benar sosok cewek yang jowo, dia sangat anggun dan kalem. Dia cewek yang cuek, di banding dengan cewek SMA lainnya dia bisa dibilang susah untuk akrab dengan teman sebayanya. Dan justru itu yang aku herankan, menurutku Aileen hampir sempurna tapi kenapa dia sangat susah mencari teman. Tapi bagiku Aileen lebih dari sekedar saudara kembarku, dia adalah sahabatku dan hampir kemanapun kita selalu bersama. Kita adalah saudara yang rukun, kita hampir tidak pernah bertengkar kecuali saat kita berebut boneka Barbie di halaman depan rumah lalu aku mendorongnya hingga tangannya tertusuk duri kaktus. Momen itu tidak akan kulupakan hingga kapanpun, aku sangat merasa bersalah. Bagai mana bisa anak berumur 3 tahun bisa melakukan tindakan keji seperti itu? Hanya demi boneka Barbie!.
                Ada kebiasaan yang mungkin selalu di anggap aneh sama anak-anak remaja yang lain. Kita berdua mempunya buku harian yang kita sebut “Diary tentang kelip bintang” dan di akhir tahun tepat di hari ulang tahun kita, kita berdua saling bertukar buku harian kita. Di tahun ini aku merasa ada yang berbeda dengan hubungan kita. Aku sangat tidak sabar untuk membaca diary milik Aieen. Aku berlari menuju meja makan, sarapan seperi biasa, mendapat kejutan dari Mama dan Ayah, make a wish, tiup lilin, saling tukar diary dengan Aileen dan kembali ke kamar masing-masing. Aku menata tempat tidurku senyaman mungkin. Aku mulai membuka buku harian Aileen.




Dear Diary,
Pagi itu aku dan Kirana berangkat ke sekolah dengan bersepeda, karena mobil Ayah mogok. Sampek di sekolah dandan-an kita sudah gak karuan, hihi kita udah kecapean mengayuh sepeda butut kita. Belum lagi begidik liatin kumis pak Santo, satpam sekolah yang sudah siap menghukum kita. Yah gimana nggak di hukum? aku lihat di arloji ungu-ku dan ini sudah jam 8, dan bel masuk kelas sudah berbunyi satu jam yang lalu. “Lin, lihat deh, ada Jerico!” ucap Kirana seraya menyenggol tubuhku, aku hanya tersenyum karena aku sedang berkonsentrasi berusaha menyeimbangkan tubuhku. Habis pak Santo menyuruh kita mengangkat satu kaki sambil menunggu jam pelajaran berikutnya agar tidak mengganggu proses belajar mengajar di kelas. “Hai,” ucap jerico menyapa kita berdua, setelah abis di bentak-bentak pak Santo dia masih sempat menyapa kita dengan gayanya yang nggak bisa dibedain antara sok cool dan genit itu? Tuhan manusia apa sih dia?
Dia berdiri di sebelah Kirana lalu mengangkat kaki kanannya, Kirana melompat-lompat kecil dengan satu kakinya untuk menyeimbangkan tubuhnya. Tapi, dia tidak sanggup menahannya. Tubuhnya mulai miring ke samping dan dia menurunkan kakinya yang  jatuh dan menapak tepat di atas kaki Jerico. “Ups! Sory-sory nggak sengaja!” ucap Kirana sambil berusaha membersihkan sepatu Jerico. “sudah-sudah .. nggak papah kok.. lanjut aja, nanti dimarain pak Santo loh!” ucap Jerico. Kirana terlihat ketakutan dan langsung kembali ke posisi semula. “Kalian berdua kok tumben terlambat?” ucap Jerico setelah menyadarinya. “mobil ayah mogok” ucapku, sambil manyun. BT banget!!, baru ini kita terlambat separah ini, Cuma karna mobil butut Ayah itu. “eh, lin.. senyum dong, masak manyun gitu? Cantiknya ilang loh!” goda Jerico. “Ish kamu itu ! dalam keadaan gini masih bisa genitin cewek!” ucap Kirana sambil mencubit lengan Jerico. “ih, abis Aileen pagi ini cantik banget sii. Aileen mau nggak jalan sama akang iko?” ucap Jerico genit sambil mengangkat-angakat kedua alisnya. “sayangnya, aku nggak bisa pergi tanpa persetujuan Kirana, hehe” ucapku sambil tertawa palsu. Itu selalu menjadi kebiasaan kita jika di ajak jalan sama cowok, “gimananih?” Tanya Jerico meminta jawaban dari Kirana “no, it’s mean TIDAK!” ucap Kirana tegas. “tapi dia lucu juga kok” bisikku pada Kirana “tapi, aku gak akan membiarkan saudaraku kencan sama cowok genit kayak dia..” balas Kirana berbisik juga. Kita tertawa melihat Jerico mengangkat kedua bahunya yang seolah mengatakan “okelah, mau gimana lagi?” lalu terlihat lemas. Kriiiiing! Bel berbunyi. Kita pun masuk kelas.
“Pagi lin..” sapa Robby cowok yang selalu menjadi ketua kelas sejak semester pertama kita duduk di bangku SMA. “pagi by, tadi ada tugas?” tanyaku. “ya ada lah! kayak nggak tau guru kimia kita aja, kamu kenapa bisa telat sih? sayang loh lin kamu ketinggalan satu jam mata pelajaran aja udah ketinggalan jauh, lagian..” belum selesai Robby memberi pencerahan di pagi ini Kirana menyela. “Hai by..” sapanya. Roby seketika diam, “eh kirana, pagi jugaa, kenapa bisa terlambat? Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Ato jangan-jangan kamu kesiangan? Tapi kamu sempet sarapan kan? Kalo belum istirahat pertama aku temenin kamu makan di kantin, oke?” serang Robby dengan memberikan pertanyaan beruntun. “hmm, dengan persetujuan Aileen tentunya” ucap Kirana sambil terkekek, “makasih by, tapi Kirana sudah sarapan kok. Lagian pasti juga aku temenin kalo istirahat” jawabku yang berarti tidak. “yah lin, kok buang-buang kesempatan sih.. Robby kan ganteng, pinter pula kesayangan guru-guru?” bisik Kirana meminta penjelasanku. “emang kamu betah kalo nanti pacaran selalu ditanyain dengan serentetan pertanyaan yang gak ada habisnya?” jelasku sambil tertawa. “yaudah, mungkin lain kali” ucap Robby lalu pergi sambil menahan malu.
Bel istirahat berbunyi, aku dan Kirana menuju kantin. “Eh ada cewek cantik nih, boleh gabung?” Suara berat itu, aku sangat mengingatnya. Aku melihat siluet cowok tinggi yang membelakangi cahaya itu. “eh iya no, gabung aja…” ucap Kirana, hah? Ternyata Vino, cowok paling cakep, keren, baik, dan multitalented banget yang pernah aku kenal!! Aku bener-bener ngefans sama itu cowok. Kitapun segera melahap habis makan siang kita, “ngomong-ngomong kalian akhir-akhir ini sibuk apa nih?” ucap Vino. “hmm..” ucapku sambil berfikir, “sibuk mikirin kamu, hihii” sela Kirana. Aku hanya tersenyum. “ih kamu ini bisa aja! Oh iya, sabtu ini kamu ada acara nggak?” tanya Vino pada Kirana “enggak kok, kenapa emang?” jawab sekaligus tanya Kirana. “di gedung Trisakti mau ada konser music klasik, keren loh mau nonton bareng?” tanya Vino lagi-lagi. Entah kenapa dadaku sesak dan mataku mulai berkaca-kaca, aku ingin menangis. “hmm, mau banget kalo diijinin sama Aileen..” ucap Kirana. “eh, iya iyaa.. pergi ajaa..” jawabku dengan terbata-bata. “lin?” panggil Kirana, “ya?” jawabku. “eh, nggak papa” jawabnya lagi tapi masih memandangiku. “kalo Aileen mau ikut boleh kok, kita pergi bertiga! Yey!” ucap Vino. “makasih no..” jawabku sambil memberi sedikit senyuman.
Sore itu aku dan Kirana memilih-milih baju untuk kita pakek ke konser musik itu, kita serempak menggunakan dress merah maroon dengan beda model. Aku menggunakan mini dress dengan potongan lengan yang pendek dan rambutku yang hitamku yang panjang aku sibakkan ke samping, melihatkan anting kecil ku yang membuatku terlihat simple dan anggun. Sementara Kirana menggunakan mini dress dengan potongan lengan yang panjang dengan bahan kebaya berwarna hitam dan merah maroon, membuat kulitnya terlihat bersih, rambutnya yang juga panjang dan hitam dia tarik semua ke belakang membuat ikat pony tail dengan menyisakan poni di depannya. Sangat cantik.
“Hai kalian!” teriak Vino, sambil melambai-lambaikan tiga tiket di tangannya. “wah, jadi gerogi nih nonton sama dua cewek cantik..” ucap Vino seraya melihat kita berdua, “yuk!” kitapun langsung masuk, karena konser sebentar lagi dimulai. Vino duduk di antara kita berdua. Konser berlangsung, kita mendengarkan dengan seksama. Entah kenapa, aku masih mengingat bagaimana cara Vino mengajak Kirana tadi. Baru kali ini aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki, dan merasakan cemburu. Tapi mana mungkin aku cemburu dengan saudara kembarku?.
Berhubung gedung Trisakti hanya berada di beberapa blok dari rumah, kita memutuskan untuk berjalan kaki. Dan Vino mengantar kita. Aku berjalan di belakang mereka, aku menundukkan kepala memandangi bayangan mereka yang tersorot dari lampu-lampu jalan. Kirana memandangi langit yang penuh bintang, sementara Vino… memandangi Kirana. Ya Tuhan rasanya kali ini aku benar-benar ingin menangis. Aku melihat bayangan mereka, tangan Vino yang berusaha ingin menggandeng tangan Kirana, tapi tiba-tiba Kirana melipat tangannya ke depan dadanya. Dan membuat Vino tersentak. Aku terus memandangi mereka, “ehm..” Vino berdeham, “ehm..” Kirana ikut-ikut berdeham. Tiba-tiba Vino menghentikan langkahnya, membuat tubuhku menabrak punggungnya. Kirana tertawa, lalu aku ikut tertawa. “Maaf lin, kaget ya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum menahan air mata. “aku mau ngomong sesuatu sama Aileen, mungkin sama kalian” ucap Vino. Aku dan Kirana bertanya-tanya, Vino menekuk lututnya dan berlutut di hadapan kita ber dua. Aku dan Kirana saling memandang. “Aileen.. Apa.. kamu…” tanganku bergetar, ada apa ini? “ehm.. apa .. kamu.. mau.. mau.. mengijinkan aku menjadi pacarnya Kirana?” ucapnya.. Seketika lututku lemas dan aku bersimpuh sehingga membuat aku sejajar dengan Vino. Aku tersenyum dan tertawa kecil, aku meneteskan air mataku. Aku tertawa, menghapusnya lalu membawa Vino untuk berdiri bersamaku. Aku menangis sejadi-jadinya aku memeluk Vino, sepertinya Kirana sangat kaget. Aku berusaha menahan tangisku “iyaa.. aku ijinin kamu sama Kirana, asal kamu mau jaga bener-bener Kirana dan janji kalo kamu gak bakal nyakitin dia” ucapku sambil sesenggukan. “enggak, aku nggak mau..!” kata Kirana. Aku memandang Kirana, dia juga meneteskan air mata “Gimana bisa aku pacaran sama orang yang kamu suka lin!” ucapnya, aku tersentak bagaimana bisa Kirana tau kalau aku suka sama Vino? Vino memandangku dalam-dalam dia berusaha memahami situasi ini “a.. aku nggak suka kok sama Vino?” ucapku sambil tersenyum dan membelai rambutnya. “terus kenapa kamu nangis lin?” tanyanya sambil mengusap air matanya. “karna aku rasa, kamu sudah menemukan cowok yang tepat. Bahkan dia tidak menyatakan perasaannya sebelum mendapat ijin dari aku.. aku yakin Vino cowok yang tepat buat kamu..” aku memeluk Kirana seraya tersenyum pada Vino lalu memberinya isyarat. Aku melepaskan pelukanku, Kirana tersenyum padaku dengan mata indahnya yang berbinar-binar itu. Vino memegang tangan Kirana dan menghapus air mata yang jatuh dipipinya. “Kirana, kamu mau nggak jadi cewekku? Satu-satunya yang mampu mengisi hatiku, dan menemani setiap langkah di hidupku?” Vino mengungkapkan isi hatinya dengan wajah merona dan mata yang juga berbinar, aku rasa dia benar-benar bahagia. “apaan sih..!” ucap Kirana sambil tertawa di sela tangisnya. “yes she do!” ucapku lantang. Kirana tertawa, aku menatap langit penuh bintang. Inikah yang namanya cinta? Aku bisa merasakan sakit dan bahagia dalam satu waktu yang sama. Aku berharap Kirana akan terus bisa membuatku bahagia dengan caranya.

            Aku menutup Diarynya, aku menangis tersedu, aku tidak tau harus meminta maaf atau berterimakasih pada Aileen. Bagaimana Aileenbisa membuatku bahagia jika dia saja tidak mampu membuat dirinya bahagia?. Namun jika sudah seperti ini, aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Aileen, aku akan membahagiakan dia dengan caraku. Aileen selalu bisa menjadi saudara, sahabat, bahkan ibu buat aku.
Dan bagaimanapun tidak akan ada yang bisa memisahkan kedua bintang Sirius, karena mereka memang diciptakan sebagai bintang yang paling terang. Dan akan selalu bersama, selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setetes Air & Lilin Kecil ♥

     Malam itu hujan rintik membasahi halaman rumah tua yang berada di pinggiran kota. Saat itu hujan cukup lebat sehingga membuat seisi kota sangt gelap. Terlihat sebuah jendela besar dengan bingkai kayu di pinggirnya. Di antara kaca bening yang cukup tipis itu terlihat setetes air yang menempel di bagian luar jendela dan sebatang lilin kecil dengan api yang bergoyang-goyang. "hai.." ucap setetes air itu setelah meluncur turun di kaca dan berhenti tepat di depan api lilin itu. "ha-haii" ucap api kecil itu. "hmm, di sini hangat" balas titik air itu. "iya, aku selalu memberikan cahaya dan kehangatan untuk siapapun di sekitarku. Jawabnya lantang sambil tersenyum.     "Kalau kau menerangi dan menghangatkan siapapun disekitarmu, apa sebenarnya yang bisa aku perbuat?" tanya titik air itu, dia berfikir dan terus berfikir. Waktu telah berlalu cukup lama, namun air itu tidak berhenti berfikir. Dia mengarahkan pandangannya pada api kecil itu. ...

Manisnya Persahabatan ♥

Apasih tali persahabatan itu?      Persahabatan adalah pertautan jiwa yang berjumpa dalam keriangan. Saat jiwa bertaut dengan jiwa yang lain, jiwa memperoleh kesenangan dan kebahagiaannya. Jiwa pun mendapatkan tempat untuk menumpahkan semua keluh kesahnya dan menjadikannya ringan dan terbang bebas.      Jiwa membutuhkan teman karena jiwa berasal dari satu kesatuan. Jiwa-jiwa sebelumnya pernah bersatu dalam sebuah alam yang mahaluas dan tak berbatas. Di sana jiwa-jiwa iyu saling mendekap dan akrab.      Jiwa-jiwa di negerinya yang abadi tidak pernah disentuh dan dirasuki kebencian dan keirian. Jiwa-jiwa itu saling menyayangi dan mengasihi.      Sahabat hadir untuuk menemani jiwa menapaki jalan-jalan menuju kesempurnaan. Menuju pada pendewasaan dan kematangan jiwa. Pada jiwa yang dipenuhi dengan kemuliaan dan keagungan.      Sahabat akan meringankan beban yang memberati punggung jiwa. Sahabat akan memberik...

Sama seperti pohon itu...

Seorang ibu bertanya pada anak lelaki-nya yang baru duduk di bangku TK. “Nak, apa cita-citamu?” si anak memandangi ibunya dengan ekspresi yang penuh tanya “apa itu cita-cita?” tanyanya dengan mata yang berbinar-binar. "kamu ingin menjadi apa saat kamu besar nanti?” jawab Ibunya dengan mencubit lembut pipi anaknya. “Aku ingin menjadi pohon! Yang besar dan kokoh!” teriaknya sambil mengepalkan tangan kanannya lalu diangkatnya tinggi-tinggi. Ibunya tertawa, “kenapa pohon?” tanyanya lagi. “Aku akanberdiri sendiri. Aku akan ada di hamparan ladang yang luas. Ya! Aku akan ada di antara rumput yang bergoyang bu!” ucapnya dengan penuh semangat sambil merentang-rentangkan tangan menggambarkan luasnya ladang yang ada di angan-angannya.“Lalu apa yang akan kamu lakukan sebagai pohon?” tanya ibunya dengan menyunggingkan senyuman yang tak hilang sama sekali dari bibirnya. “aku memang paling terlihat dan diam bu, tapi aku akan mendengar nyanyian rumput-rumput itu, menyimpankan air untuk ru...