Seorang ibu bertanya pada anak lelaki-nya yang baru duduk di bangku TK. “Nak, apa cita-citamu?” si anak memandangi ibunya dengan ekspresi yang penuh tanya “apa itu cita-cita?” tanyanya dengan mata yang berbinar-binar. "kamu ingin menjadi apa saat kamu besar nanti?” jawab Ibunya dengan mencubit lembut pipi anaknya. “Aku ingin menjadi pohon! Yang besar dan kokoh!” teriaknya sambil mengepalkan tangan kanannya lalu diangkatnya tinggi-tinggi. Ibunya tertawa, “kenapa pohon?” tanyanya lagi. “Aku akanberdiri sendiri. Aku akan ada di hamparan ladang yang luas. Ya! Aku akan ada di antara rumput yang bergoyang bu!” ucapnya dengan penuh semangat sambil merentang-rentangkan tangan menggambarkan luasnya ladang yang ada di angan-angannya.“Lalu apa yang akan kamu lakukan sebagai pohon?” tanya ibunya dengan menyunggingkan senyuman yang tak hilang sama sekali dari bibirnya. “aku memang paling terlihat dan diam bu, tapi aku akan mendengar nyanyian rumput-rumput itu, menyimpankan air untuk rumput di sekitarku, menyejukkannya dari terik matahari, meneduhkan-nya dari hujan badai, dan membiarkan rumput-rumput itu tumbuh bersamaku?” jelasnya sambil menatap sang ibu. “cita-cita yang mulia nak, tapi orang-orang akan menertawakanmu jika cita-citamu menjadi sebatang pohon?” jawab sekaligus tanya sang ibu seraya menggendongnya keatas pangkuan sang ibu. “Lalu apa yang harus aku katakan ketika seseorang bertanya seperti ibu? Ibu ingin aku menjadi apa?”. Tanya anak itu dengan menundukkan wajah yang penuh kelabu. “Apa kamu mau menjadi seorang pemimpin negara?” Tanya sang ibu lagi setelah berfikir sejenak, “apa yang dilakukan seorang pemimpin negara bu?”.Dia mengangkat kepala dan menatap ibunya. “Sama seperti pohon itu..” jawabnya dengan senyuman. Bocah lelaki itu-pun membalasnya dengan senyum yang lebih lebar.
Seorang ibu bertanya pada anak lelaki-nya yang baru duduk di bangku TK. “Nak, apa cita-citamu?” si anak memandangi ibunya dengan ekspresi yang penuh tanya “apa itu cita-cita?” tanyanya dengan mata yang berbinar-binar. "kamu ingin menjadi apa saat kamu besar nanti?” jawab Ibunya dengan mencubit lembut pipi anaknya. “Aku ingin menjadi pohon! Yang besar dan kokoh!” teriaknya sambil mengepalkan tangan kanannya lalu diangkatnya tinggi-tinggi. Ibunya tertawa, “kenapa pohon?” tanyanya lagi. “Aku akanberdiri sendiri. Aku akan ada di hamparan ladang yang luas. Ya! Aku akan ada di antara rumput yang bergoyang bu!” ucapnya dengan penuh semangat sambil merentang-rentangkan tangan menggambarkan luasnya ladang yang ada di angan-angannya.“Lalu apa yang akan kamu lakukan sebagai pohon?” tanya ibunya dengan menyunggingkan senyuman yang tak hilang sama sekali dari bibirnya. “aku memang paling terlihat dan diam bu, tapi aku akan mendengar nyanyian rumput-rumput itu, menyimpankan air untuk rumput di sekitarku, menyejukkannya dari terik matahari, meneduhkan-nya dari hujan badai, dan membiarkan rumput-rumput itu tumbuh bersamaku?” jelasnya sambil menatap sang ibu. “cita-cita yang mulia nak, tapi orang-orang akan menertawakanmu jika cita-citamu menjadi sebatang pohon?” jawab sekaligus tanya sang ibu seraya menggendongnya keatas pangkuan sang ibu. “Lalu apa yang harus aku katakan ketika seseorang bertanya seperti ibu? Ibu ingin aku menjadi apa?”. Tanya anak itu dengan menundukkan wajah yang penuh kelabu. “Apa kamu mau menjadi seorang pemimpin negara?” Tanya sang ibu lagi setelah berfikir sejenak, “apa yang dilakukan seorang pemimpin negara bu?”.Dia mengangkat kepala dan menatap ibunya. “Sama seperti pohon itu..” jawabnya dengan senyuman. Bocah lelaki itu-pun membalasnya dengan senyum yang lebih lebar.

Komentar
Posting Komentar